Setengah dua belas. Ini hari Jumat. Jadwal saya untuk mengisi kotbah Shalat Jumat. Saya berdiri, merapikan gamis dan meninggalkan komputer. Berjalan menuju lantai bahwa gedung perkantoran tempat saya bekerja, tempat biasa diadakan Jumatan. Semalam saya sudah menyiapkan kotbah yang dahsyat
Sidang Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada malam-malam tertentu, rumah tetangga yang tepat bersebelahan dengan tempat tinggal saya digunakan untuk pengajian. Dalam satu minggu bisa tiga kali: ada sesi untuk bapak-bapak, ibu-ibu dan remaja putri. Bukan pengajian ala Aa Gym dimana sang ustad ceramah tentang bagaimana berbuat baik dengan tetangga dan jamaah mendengarkan dengan khusus. Juga bukan pengajian ala Arifin Ilham yang berdzikir sambil menangis-nangis. Melainkan, belajar membaca al qur’an. Saya pernah secara tidak sengaja mendengar apa yang dikatakan ustad ketika sedang berlangsung pengajian untuk anak-anak dan remaja putri. “Membaca al quran dengan benar akan mendapat pahala, tapi kalau salah akan mendapat dos…?”
“Dosaaaa,” jawab anak-anak yang semuanya perempuan itu serempak.
Sidang Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dalam hati saya membatin, “Wah, kalau begitu lebih baik gak baca al quran sama sekali, daripada salah dan malah dosa.” Pada saat yang sama, saya juga langsung teringat masa kecil dulu, ketika saya melakukan hal yang sama dan mendapatkan pelajaran yang sama pula. Baru sekarang terpikir oleh saya, betapa anehnya cara guru-guru agama itu memperkenalkan konsep dosa kepada anak-anak. Maksud saya, mengapa mereka menempelkan kata dosa justru pada perbuatan yang baik. Logika sederhananya, kalau belum-belum udah dihadang dengan kata “dosa (kalau salah)”, gimana orang bisa belajar al quran dengan tenang? Bagaimana menghindari kesalahan? Kalau salahnya banyak, belajar al quran bisa sama dengan menumpuk dosa dong.
Agak sedih, bahwa sejak saya kecil dulu hingga zaman sekarang, guru-guru agama itu masih saja mengajarkan tentang dosa dengan cara yang sama. Dan karena itu terjadi saat kita masih kanak-kanak, maka itu menjadi pelajaran pertama kita tentang dosa, dan seterusnya menjadi dasar pemahaman kita mengenai konsep dosa itu.
Agak nggak heran, kalau kemudian banyak di antara kita, ketika memasuki kehidupan dunia dewasa, masih berpikir tentang dosa dalam konteks “belajar membaca al quran” seperti itu. Artinya, ada kecenderungan pada diri kita untuk gampang sekali menempelkan kata dosa pada sesuatu hal. Jangan bohong nanti dosa. Jangan makan itu, haram, nanti dosa. Ih, kok kamu minum bir sih, itu kan haram, dosa tauk! Lu suka ikutan kuis sms di tv ya, itu kan judi, dosa! Dan sebagainya.
Maksud saya, bahwa dalam pelajaran agama memang ada bab tentang halal-haram, yang ini dosa, yang itu dosa, dan kita yang mengaku beriman mesti percaya itu. Tapi, hampir tidak pernah kita dengar orang mengatakan, jangan korupsi, dosa. Jangan mengoplos minyak tanah, itu merugikan rakyat, dosa. Jadi ketua partai jangan janji-janji kosong dong, dosa itu. Bukan hampir tidak pernah sih, bahkan bener-bener tidak pernah kita mendengar orang bicara atau mengucapkan dosa dalam konteks yang paling pas mewakili kata itu. Bahkan, pernahkah ada yang menuding orang yang perusahaannya menyebabkan lumpur dari dalam bumi menyembur tak henti-henti dan menenggelamkan desa-desa dan membuat ribuan keluarga kehilangan segalanya, sebagai pendosa?
Sidang Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kita hidup dalam masyarakat yang begitu beragama, begitu bermoral, dan semakin sering saja kita mendengar kata dosa diucapkan, ditempelkan, ditudingkan, namun maknanya semakin kabur, tidak relevan dan salah sasaran.
Jamaah yang duduk berderet-deret di hadapan saya, di bawah mimbar, mendongakkan kepala mereka tinggi-tinggi. Mata mereka melotot seperti hendak melompat keluar dan mulut menganga lebar-lebar seolah hendak beramai-ramai menerkam dan menelan saya.